The One That Got Away

Terkadang kita menanggapi suatu kepergian secara berlebihan. Dengan ketakutan yang pada akhirnya membuat kita berjalan tertatih-tatih disaat kedua kaki kita masih kuat untuk tegak berdiri. Lebih parahnya lagi ada yang memilih diam. Ada juga yang berusaha untuk terus berjalan perlahan-lahan, namun tetap dianggap lemah. Padahal bisa saja ia sedang menikmati sebuah pelajaran.
Pada hakikatnya kepergian adalah sesuatu yang akan selalu terjadi, dimana saja, menimpa siapa saja, memisahkan apa saja yang pernah berjumpa. Entah hanya untuk sesaat, untuk waktu yang lama, atau mungkin untuk selama-lamanya.
Besertanya selalu muncul kecemasan, kalau-kalau kita akan termakan kesepian. Padahal jika kita ingin tahu siapa yang berani-beraninya menciptakan kesepian itu, kita tinggal melangkah ke depan cermin. Temui pelakunya disitu. Bisa lihat? Itu kita. Kitalah yang kadang terlalu mengagung-agungkan seseorang dan mengenyampingkan arti dan keutuhan diri sendiri. Kitalah yang kadang terlalu sibuk memberi makan hati orang lain sampai terlupa memberi makan hati sendiri. Dan begitu seseorang yang kita cintai pergi, kita sudah terlanjur terbiasa mengabaikan diri sendiri. Kitapun lupa bagaimana caranya mencintai dan menghargai diri sendiri.
Dimanapun letak kesalahan yang membuat terpisahnya suatu ikatan, bukankah kita bisa mengartikan semuanya dengan lebih sederhana? Bahwa yang berpisah memang harus berpisah, dan yang berjumpa memang harus berjumpa. Orang-orang yang memilih pergi, mungkin memang berhak untuk pergi. Sama halnya dengan orang yang memilih untuk tetap sendiri, mungkin mereka memang berhak untuk memilih sendiri. Tak ada yang salah, selama kita tak mengelabui diri sendiri. Karena kita tidak hidup di dalam tumpukan roti berselai stroberi. Kita tidak bisa mengecap rasa manis pada seluruh detik yang kita miliki. Tapi bukan berarti kita harus menganggap kepahitan sebagai suatu duka. Justru pahit menetralisir, bukan? Menyembuhkan, seperti obat.
The one that got away.
Sebuah sebutan untuk mereka yang telah pergi. Terlepas dari apakah mereka memilih pergi ataukah tidak. Yang jelas mereka memang ditakdirkan untuk tidak lagi berada di dalam jangkauan kita.
The one that got away.
Bagaimana jika mereka kembali lagi?
Jika seseorang yang telah pergi kembali lagi, maka mereka memang harus kembali lagi. Lagi-lagi, sebuah jawaban sederhana yang tak beranak pinak, bukan? Jika mereka kembali untuk menorehkan luka lagi, itu berarti kita belum cukup diajari. Artinya masih banyak pelajaran yang sedang mengantri untuk kita terima dari rasa pahit. Dan jika mereka kembali untuk menata semuanya kembali, tak perlu mencegah hal itu terjadi. Tapi jangan pula menanti-nanti. Cukup yakini saja bahwa tak ada luka yang takkan terobati. Entah berkat waktu, atau berkat kedatangan seseorang yang baru.
Kepergian. Perpindahan. Pergantian. Katakanlah istilah-istilah itu sebagai sebuah pergerakan mutlak yang takkan pernah bisa kita hindarkan. Mereka didasari suatu kepastian yang rasanya tidak perlu diperdebatkan lagi– Hidup hanya sementara. Sama halnya dengan segala hal yang ada di dalamnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s