‘I Forgive You’ or ‘Thank You’?

Di saat suatu hal gak matching sama keinginan, di saat kita dikecewakan sama seseorang, di saat kita dihadapkan sama kondisi yang gak menyenangkan, kita cenderung akan selalu mencari-cari sesuatu buat disalahkan. Kadang kita seneng banget ungkit-ungkit kesalahan orang, padahal mulut udah bilang ‘iya, dimaafin’. Kadang kita terus aja menyalahkan keadaan, tanpa mengambil tindakan apa-apa buat memperbaikinya. Bahkan kadang kita menyalahkan diri sendiri, hidup di dalam lingkaran penyesalan yang gak bertepi, dan malah memusuhi diri sendiri seolah dengan begitu keadaannya bakalan jadi lebih baik. Memangnya iya? Jelas enggak.
Marah itu memang manusiawi. Tapi kalau kita memperlakukan marah itu layaknya teman baik, ya lama-lama bertransformasi jadi dendam dan benci. Bakalan semakin jauh juga jalan yang harus kita lewati demi memiliki kedamaian hati.
Kenyataannya, kecuali kita mengikhlaskan, kecuali kita belajar buat menerima keadaan, dan kecuali kita udah sadar bahwa ‘yang udah kejadian memang harus kejadian’, maka kita gak akan pernah bisa maju kedepan. Yang namanya dendam itu cuma bikin kita jalan di tempat. Gerak sih gerak, tapi gak pindah kemana-mana.
Ketika kita mengampuni seseorang, kita gak cuma menyelamatkan orang itu dari rasa bersalah, tapi kita juga menciptakan pembebas buat diri kita sendiri. Ketika kita mengampuni, berarti kita udah berdamai sama diri sendiri. Keikhlasan itu memurnikan hati, sementara kebencian gak punya manfaat lain selain menggerogoti kedamaian diri. Pengampunan yang sejati, yakni ketika kita sudah mampu mengirimi mereka doa-doa yang baik. Sama halnya, ketika kita punya salah sama orang lain, jangan pernah malu-malu buat minta maaf. Minta maaf itu gak akan membuat diri kita tampak kecil, kan? Malah sebaliknya, derajat kita akan bertambah tinggi, dan kedamaian itu bakalan terus betah tinggal di dalam hati.
Kita di hari ini bukan siapa-siapa tanpa segala macam kecewa yang pernah kita rasain. Tuhan selalu punya banyak cara buat ngasih liat kita pelajaran-pelajaran menarik. Mungkin salah satunya lewat rasa sakit hati. Semua hikmah itu mungkin belum sepenuhnya terasa saat ini. Tapi lagi-lagi, saya yakin setelah hujan akan selalu ada pelangi. Ah, masa sih? Hahaha. Tapi bisa saja. Kalaupun gak ada, mungkin pelanginya sembunyi, atau mungkin kitanya yang terlalu sibuk mencari-cari hal lain sampai gak sadar udah dikasih hikmah yang baik. Ketidaksempurnaan dan perbedaan dalam diri manusia selalu menciptakan friksi, konflik, permusuhan, tapi justru dari hal itulah kita bisa mengais lebih banyak makna kehidupan yang berarti. Untuk mereka yang pernah berbuat salah dan menyakiti kita, kayaknya keren sih kalau kita berani bilang terimakasih, atas segala macam sakit hati yang secara gak langsung udah berperan penting dalam pendewasaan diri.
Ini khusus dari saya, buat orang-orang yang pernah saya bikin keki, maafin ya. Dan buat orang-orang yang pernah nyakitin hati, saya gak pernah bosan dan gengsi buat bilang ini: terimakasih, bro, sis.
Berbahagialah dan jangan pernah segan buat mengampuni, karena itu yang dari dulu saya terus pelajari dengan kesungguhan hati, dan berkat itu kedamaian hati saya jadi lumayan terkendali. Hehe.
So, what would you choose? ‘I Forgive You’ or ‘Thank You?’ Semua terserah kamu. But personally, I will always choose number two.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s